Kategori Berita

Gaya Hidup Ngopi di Solo Ternyata Picu Lonjakan Inflasi

Promosi & Bisnis • 4 Januari 2026 • Redaksi
Gaya Hidup Ngopi di Solo Ternyata Picu Lonjakan Inflasi
Ilustrasi: Gaya Hidup Ngopi di Solo Ternyata Picu Lonjakan Inflasi Wali Kota Solo mengungkap fakta unik bahwa tren coffee shop dan konsumsi es teh kini menjadi…
Gaya Hidup Ngopi di Solo Ternyata Picu Lonjakan Inflasi
Ilustrasi: Gaya Hidup Ngopi di Solo Ternyata Picu Lonjakan Inflasi

Wali Kota Solo mengungkap fakta unik bahwa tren coffee shop dan konsumsi es teh kini menjadi penyumbang inflasi tertinggi, menggeser kebutuhan pokok.

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mencatat adanya fenomena ekonomi yang menarik terkait faktor pendorong inflasi di wilayahnya. Jika biasanya inflasi didorong oleh kenaikan harga bahan pangan pokok seperti cabai atau bahan bakar, kini gaya hidup masyarakat justru memegang peranan vital. Wali Kota Solo menyoroti menjamurnya bisnis coffee shop sebagai salah satu kontributor utama tingginya angka inflasi di kota tersebut.

Pergeseran Pola Konsumsi Masyarakat

Perubahan perilaku konsumsi masyarakat Solo, khususnya kalangan muda, dinilai menjadi penyebab utama pergeseran ini. Tren "nongkrong" dan konsumsi minuman kekinian telah mengubah peta komoditas penyumbang inflasi. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat terhadap produk gaya hidup (lifestyle) cukup tinggi, namun di sisi lain memberikan tekanan pada stabilitas harga agregat di daerah.

Wali Kota Solo menjelaskan bahwa komoditas yang biasanya dianggap sekunder, kini justru menduduki peringkat atas dalam menyumbang andil inflasi. Selain kopi, komoditas lain seperti teh manis (es teh) dan rokok juga masuk dalam daftar tersebut, bersanding dengan kebutuhan pokok seperti beras.

Dalam keterangannya, Wali Kota Solo menegaskan:

"Coffee shop, es teh, rokok, beras. Itu penyumbang inflasi nomor satu dan dua."

Dampak Pertumbuhan UMKM Kuliner

Pertumbuhan pesat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya di sektor kuliner dan kedai kopi, memang membawa dampak positif bagi perputaran ekonomi lokal. Namun, tingginya permintaan yang tidak selalu diimbangi dengan stabilitas pasokan bahan baku atau manajemen harga yang tepat, memicu kenaikan harga di tingkat konsumen.

Fenomena di mana es teh dan kopi menjadi pemicu inflasi ini menjadi sinyal bagi pemerintah daerah untuk tidak hanya memantau harga pasar tradisional, tetapi juga sektor jasa boga dan kafe yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian warga Solo.

Pemerintah Kota Solo berharap kesadaran akan pola konsumsi ini dapat diimbangi dengan strategi pengendalian harga yang lebih komprehensif agar daya beli masyarakat tetap terjaga tanpa membebani target inflasi daerah.